Metafisika: Dari Onto-Theo-Logi hingga Etika
Tulisan ini bertolak dari dua intuisi dasar Heidegger, yakni ‘Onto-theo-logi’ dan ‘Pembedaan Ontologis’, sebagaimana diuraikannya dalam Introduction to ‘What is Metaphysics’, Pathmarks, hlm. 287:
“Metaphysics states what beings are as beings. It offers a logos (statement) about the on (beings). The latter title ‘ontology’ characterizes its essence, provided, of course that we understand it in accordance with its proper significance and not through its narrow Scholastic meaning. In this manner, metaphysics always represents beings as such in their totality; it represents the beingness of beings (the ousia of the on). But metaphysics represents the beingness of beings in a twofold manner; in the first place, the totality of beings as such with an eye to their most universal traits (on katholou, kainon); but at the same time also the totality of beings as such in the sence of the highest and therefore divine being (on katholau, akrotaton, thelon). In the metaphysics of Aristotle, the unconcealedness of beings as such has specifically developed in this twofold manner.
Because it represents beings as beings, metaphysics is, in a twofold and yet unitary manner, the truth of beings in their universality and in the highest being. According to its essence, metaphysics at the same time both ontology in the narrower sense, and theology. This onto-theo-logical essence of philosophy proper (prote philosophia, first philosophy, filsafat pertama) must indeed be grounded in the way in which the on opens up in it, namely, as on.”
Gagasan yang sama ia kemukakan dalam “The Onto-Theo-Logical Constitution of Metaphysics,” Identity and Difference, New York: Harper Torchbooks, 1974, hlm. 54:
“Western metaphyiscs, however, since its beginning with the Greeks has eminently been both ontology and theology, still without being tied to these rubrics. For this reason my inaugural lecture What is Metaphysics (1929) defines metaphysics as the question about beings as such and as a whole. The wholeness of this whole is the unity of all beings that unifies as the generative ground. To those who can read, this means: metaphysics is onto-theo-logy.
Daftar Isi
- Metafisika sebagai Onto-Theo-Logi
- Pembedaan Ontologis dan Khora
- Catatan Kritis atas Ontologi Fundamental
- Heidegger: Kekerasan, Intensionalitas, dan Phusis
- Platon: Aletheia dan Alegori Goa
- Aristoteles: Nama dan Ilmu Metafisika
- Plotinos: Prosesi, Hipostasis, dan Jalan Keluar
- Kant: Batas dan Kemungkinan Metafisika
- Levinas dan Michel Henry: Etika dan Kehidupan
- Daftar Pustaka
Metafisika sebagai Onto-Theo-Logi
Sebelum Heidegger, metafisika dipahami sebagai pembicaraan tentang “ada sebagaimana ada-nya sendiri” (being qua being). Kata “being” di sini merujuk pada apa saja, baik yang inteligibel maupun yang sensibel: malaikat itu “ada” dan meja pun “ada”, entah kelihatan atau tidak. Metafisika tidak tertarik pada sifat-sifat partikular “ada” seperti berat atau panjang; ia mempertanyakan “ada”-nya sendiri “sejauh ia ada”, terlepas dari segala sudut pandang partikular atas binatang atau malaikat itu.
Heidegger menunjukkan bahwa metafisika semacam itu ternyata berstruktur onto-theo-logis. Begitu orang meninggalkan sudut pandang ilmu-ilmu partikular lalu membahas ada dalam dirinya sendiri, ia biasanya akan tiba pada sebuah ‘ada’ yang paling umum dan universal, atau sebaliknya pada sebuah ‘ada’ yang paling ilahi. ‘Ada’ itulah yang kemudian dijadikan ‘sebab akhir’, ‘pengasal’, atau ‘pencipta’: ada sejauh ‘ada’ (to on) tampil sebagai “yang paling umum” dalam arti yang paling tinggi sekaligus paling ilahi (theos). Metafisika semacam itu sekaligus ontologi dan teologi, yang dibungkus dalam sebuah wacana yang benar (logos).
Di sinilah letak masalahnya menurut Heidegger. Metafisika onto-theo-logis selalu berambisi menemukan “kebenaran” lewat representasi, padahal benda, terlepas dari kesadaran kita, sudah mem-presentasi-kan dirinya sendiri. Baru ketika kita menyadarinya, kita me-representasi-kannya di dalam kesadaran. Sementara representasi tidak pernah mencakup keseluruhan realitas benda: ia mencerabut kekayaan realitas dan mereduksinya. Jadi metafisika ontoteologis berpretensi mewakili keseluruhan, padahal setiap kesadaran atas realitas selalu mengandung reduksi.
Kesimpulannya, metafisika semacam itu tidak pernah sungguh-sungguh sampai pada “ada” dalam dirinya sendiri. Mengapa begitu sulit membicarakan being qua being? Sebab “ada”, menurut Heidegger, bersifat mewujudkan sekaligus menyembunyikan dirinya: setiap ia muncul, ia muncul sebagai representasi, dan justru dengan itu ia menyembunyikan dirinya, sehingga tidak pernah habis diuraikan. Kebenaran “ada” adalah a-letheia (“tidak lupa”, “sejauh tersingkap dari kelupaan”, yakni ketaktersembunyian), dan konsep ini mengandaikan adanya lethe: sesuatu yang masih menunggu disingkapkan dari kelupaannya, the unthought.
Karena itu, bila “ada” dalam dirinya sendiri hendak dibicarakan, kita membutuhkan ruang wacana tersendiri yang disebut ontologi fundamental: tidak lagi mencari kebenaran “ada” dari representasi-representasinya, melainkan masuk lebih dalam dan membicarakan kembali “ada” itu sendiri. Heidegger mengajak kita beralih dari “berpikir tentang ‘ada’ via representasi” menuju “berpikir tentang ada itu sendiri.”
Pembedaan Ontologis dan Khora
Pembedaan ontologis, yakni pembedaan antara Sein (Be/Ada) dan Seiendes (beings/adaan-adaan), yang merupakan pokok utama Ontologi Fundamental Heidegger.
Untuk menangkap maksudnya, bayangkan seseorang yang hendak membeli buah-buahan. Ia pergi ke pasar dan berkata kepada pedagang: “Saya mau membeli buah, Pak.” Pedagang itu pun menawarkan apel, pisang, mangga, jeruk, delima, segala buah yang ada di warungnya, tetapi orang itu selalu menjawab: “Tidak, Pak. Saya mau membeli buah.” Semua yang ditawarkan memang buah, namun “buah” yang dicarinya tak kunjung ketemu.
Ternyata orang itu seorang metafisikus, dan yang dicarinya adalah ke-buah-an: semacam karakter paling umum sekaligus paling mulia dari segala buah yang ada. Sedangkan “buah” hanyalah nama generik yang merangkum segala macam buah.
Apakah seperti itu yang dimaksud Heidegger dengan “pembedaan ontologis” antara Be dan being, yakni kebuahan sebagai Be dan buah-buah partikular sebagai beings? Bukan. Apakah Be diperoleh dengan mengumpulkan semua beings? Bukan juga. Be bukanlah kumpulan beings, bukan pula karakter umumnya.
Be yang dimaksud Heidegger ‘dalam arti tertentu’ adalah yang mendasari: dasar yang menopang, ground yang meng-ada-kan semua beings. Dikatakan ‘dalam arti tertentu’ karena Be yang mendasari ada-nya beings itu sendiri bukanlah sebuah “landasan”: Be tidak meng-ada-kan beings melalui hubungan kausal yang rasional (karena ada Be, maka beings dapat ada), melainkan melalui aktivitas “perwahyuan” atau “ketersingkapan”.
Menurut Heidegger, pembedaan ontologis ini berawal dari Platon dan penjelasannya tentang khora: suatu gap atau ruang antara dunia real dan dunia Forma, yang disebut juga rahim atau matriks. Dalam Timaios dikisahkan penciptaan dunia, di mana dunia dibentuk menurut bayangan Demiurgos tentang Paradeigma, dan khora adalah wadah atau tempat di mana yang sensibel (air, api, udara, tanah) dibuat. Karena yang sensibel merupakan hasil bayangan Demiurgos, ia tidak se-ideal paradeigma. Khora termasuk “bentuk ke tiga” (the 3rd kind): bentuk pertama adalah yang inteligibel, yaitu ada yang selalu dan menjadi pola (paradeigma), sedangkan bentuk kedua adalah yang sensibel, yaitu yang menjadi dan berubah sebagai bayangannya.
Dalam pemikiran Heidegger, khora kemudian menjadi ruang antara Being dan beings, ontological differance itu sendiri, pembeda ontologis antara Being dan beings, yang berasal dari yang ‘lain’, the 3rd kind, yang tak terpikirkan dan tak terkatakan.
Be yang selalu dilupakan sejarah filsafat ini, di mata Heidegger, adalah semacam “kedalaman yang lebih dalam, yang tak terbahasakan dan tak terpikirkan oleh logos”. Kita dapat mengaksesnya bukan lagi lewat rasio-analitis yang memakai logika, melainkan lewat “meditative thinking”, di mana kita hanya menunggu “self-revelation” dari sang Ada itu sendiri.
Catatan Kritis atas Ontologi Fundamental
Heidegger pada akhirnya menawarkan cara berpikir lain yang tanpa rasio. Di sini muncul kritik yang wajar: mungkinkah kita memikirkan sebuah “Ada” yang berada di luar bahasa dan logika?
Kritik yang lain lihat Levinas.
Heidegger: Kekerasan, Intensionalitas, dan Phusis
Metafisika dan Kekerasan
Sikap metafisika yang mengusung kebenaran dogmatis cenderung dekat dengan kekerasan, karena ia berpretensi dan berambisi. Secara teoretis polanya sederhana: begitu sebuah kebenaran metafisis ditetapkan, semua yang lain harus dianggap salah. Kekerasan sudah muncul pada tingkatan itu. Apalagi bila sikap yang mendewakan kebenaran ini diterapkan pada persoalan praktis, akibatnya bisa mengerikan, seperti terlihat pada orang-orang fanatik: atas dasar doktrin metafisis yang diyakininya, ia menyalahkan semua ajaran lain hingga perilaku sosialnya tidak lagi manusiawi.
Heidegger mengaitkan metafisika, modernitas, dan teknologi dengan lebih tegas lagi. Metafisika sebagai “ontoteologi” niscaya bersifat saintifik: begitu yang terdasar dari realitas sudah bisa ditangkap dan dipahami, manusia cenderung menerapkannya secara kalkulatif. Hasil teknologi memang berguna, namun dari situlah kekerasan bermula: peperangan, pembunuhan, perlakuan atas dunia dan manusia sebagai materi belaka.
Intensionalitas: dari Husserl ke Heidegger
Husserl berhadapan dengan dua aliran di masanya yang menurutnya sama-sama bermasalah:
-
Psikologisme, yang tidak memberi akses kepada realitas karena mereduksi segalanya menjadi kesadaran belaka.
-
Naturalisme, yang tidak memberi penjelasan soal “makna” karena mereduksi segalanya, termasuk kesadaran, menjadi objek.
Di satu sisi semua realitas disubjektivir, di sisi lain semua diobjektivir. Jalan keluarnya ditemukan Husserl dalam kodrat kesadaran itu sendiri: kesadaran manusia “selalu telah berujud sebagai kesadaran akan sesuatu” (in-tensio = dalam ketegangan), yang ia namakan Intensionalitas. Intensionalitas ini bergerak dalam dua arah:
-
Gerak aktif: kesadaran selalu keluar dari dirinya dan terarah pada objek di luar dirinya, bahkan “kesadaran akan kesadaran” pun merupakan gerak keluar semacam itu. Kesadaran selalu kesadaran akan sesuatu, dan sifatnya adalah “necessity” (tidak bisa tidak: sadar selalu berarti sadar akan sesuatu).
-
Gerak pasif: kesadaran selalu berhadapan dengan realitas (objek) yang “sudah selalu memberikan dirinya” (presentasi). Inilah self-givenness objek atau realitas itu sendiri, yang sifatnya adalah “possibility” (dapat tampil, dapat tidak: objek menyapa kesadaran sebelum dipikirkan). Self-givenness ini tampak pada kesadaran sebagai “stimmung” (suasana batin), yakni kesadaran pra-refleksif.
Dari sinilah pentingnya sikap epoche bagi Husserl: epoche artinya menangguhkan putusan, yakni menunda putusan tentang ada atau tidaknya dunia di luar dan meletakkan realitas dalam tanda kurung, lalu mendeskripsikan apa yang tampil sebagaimana ia tampil, mengujinya bersama kesadaran yang lain (intersubjektivitas), dan menahan diri hingga tak ada keputusan.
Rupanya Heidegger melanjutkan temuan Husserl mengenai “dimensi penghayatan fundamental hidup yang dihayati” ini: objek di depan kita selalu sudah memberikan dirinya, bukan dalam bentuk kesadaran melainkan dalam bentuk stimmung. Heidegger memperdalam dimensi “pasif” dari self-givenness objek ini untuk mengkritik “teori kesadaran” yang masih kuat dalam Husserl, sekaligus memperdalam konsep “pikiran” sebagai “keterbukaan pada sang Ada.”
Analisis Husserl atas “kesadaran” inilah yang menjawab pertanyaan kita kepada Heidegger: “mengapa Ada mewahyukan diri dalam gerak penyingkapan dan ketersembunyian?”
Heidegger kemudian mengubah fenomenologi menjadi sebuah “ontologi”: tekanannya bukan lagi pada pemahaman, aktivitas kesadaran untuk memahami objek di depannya, melainkan pada soal Be (Sein).
Phusis
Phusis bagi Heidegger adalah segala realitas yang ada secara keseluruhan, the self forming prevailing of beings as a whole: apa pun yang ada di dekat manusia, yang menopang dan melingkupinya, apa pun yang dimengerti manusia sebagai “ada”: singkatnya Ada/Being, dari meja dan kursi hingga yang inteligibel.
Phusis tidak boleh disempitkan hanya pada fenomena “tanaman” atau “binatang” belaka, dan nature tidak boleh direduksi, seperti dilakukan kebanyakan orang, menjadi sekadar object of natural science atau sesuatu yang pra-saintifik.
Logos, dalam hal ini, selalu berusaha mencerabut, mengkonsepsi, mengatakan, padahal ia tidak dapat menyatakan seluruh realitas: realitas/phusis selalu lebih besar daripada konsepsi yang dibentuk logos. Menurut Heidegger, memang menjadi esensi phusis yang “prevailing” itu sendiri untuk dinyatakan secara tertentu oleh manusia, sejauh manusia hidup di antara phusis itu sendiri.
Maknanya menjadi jelas bila kita melawankan legein (bringing to word) dengan kruptein (not letting come to word), dan Heidegger mencari legitimasinya dalam pemikiran Herakleitos: “Orakel tidak mengatakan apa-apa dan tidak juga menyembunyikan, tetapi memberikan tanda.”
Padahal, (1) Herakleitos justru ingin berbicara tentang tanda yang selalu ambigu, bukan pertama-tama tentang legein dan kruptein.
Menurut Heidegger, logos merenggut sesuatu dari persembunyiannya. Namun jelas juga bahwa meski direnggut oleh logos, phusis tetap tersembunyi.
Padahal, (2) Herakleitos sama sekali tidak berbicara tentang “esensi” phusis, melainkan sekadar merujuk pada cara operasi dan dinamisme phusis yang memang begitu: cara phusis berdinamika adalah lewat penyatuan hal-hal yang bertentangan. Jadi teks Herakleitos sama sekali tidak berbicara tentang sesuatu yang tersembunyi.
Platon: Aletheia dan Alegori Goa
Aletheia sebagai Ketaktersembunyian
Heidegger memaknai aletheia sebagai ketersingkapan: sesuatu yang direnggut dari ketersembunyiannya. Bagi Heidegger, aletheia adalah kata Yunani bentukan “a privative + lethe”, yang dalam bentuk privatifnya (mengurangi) menunjuk pada ketaktersembunyian. Dalam arti ini, orang Yunani memahami kebenaran (truth sebagai aletheia) sebagai sesuatu yang dipisahkan atau direnggut dari ketersembunyian. Jadi soal truth bagi Heidegger sama sekali tidak berkaitan dengan pembuktian proposisi, dan yang masih tersembunyi bukan hanya yang “higher” melainkan juga yang paling khas.
Menurut Heidegger, kebenaran ‘X’ adalah ketaktersembunyian: kebenaran bukanlah ketepatan pikiran dengan kenyataan, melainkan ketersingkapan belaka. Kegawatannya, di sini tidak ada lagi benar atau salah: yang ada hanya yang tersembunyi atau yang tertampakkan, sehingga muncul krisis moral.
Tesis Heidegger mengatakan bahwa inti kebenaran sejak zaman Prasokratik sebenarnya adalah “penyingkapan”, sebelum “kebenaran sebagai penyingkapan” ini diselewengkan menjadi “kebenaran korespondensi”. Jejaknya dapat kita lacak dalam Alegori Goa, di mana menurut Heidegger Platon mengidentikkan “degrees of being” dengan “degrees of truth.”
Menurut Heidegger, yang utama dari Alegori Goa justru dilupakan Platon: unsur “gelap”-nya. Manusia goa bisa melihat karena ada gelap!
| Situasi | Being (yang dilihat) | Kebenaran (yang dicapai) |
|---|---|---|
| Tahanan terantai | Alethes: Melihat bayang-bayang. Bayang itu dianggap benar. | Kebenaran artinya penyingkapan (disclosure) |
| Tahanan yang bebas dari rantai (masih dalam goa) | Alethestera: “nearer to reality”; truer | Truer bagi Heidegger artinya “more disclosed”. |
| Tahanan yang keluar goa | Alethestata: “the truest reality”; (istilah ini tidak ada di Politeia. Ia dari Sophistes. Heidegger merujukkannya ke idea. Rujukan itu terasa dipaksakan.) | Kebenaran paling tinggi. Sebab di idea kita menemukan the essence of things |
Penarikan Kembali Tahun 1964
Tahun 1964, Heidegger menarik kembali apa yang semula ia tekankan sebagai konsep terbenar mengenai aletheia sebagai a-privativum: menerima kritikan Paul Friedländer dan para ahli bahasa Yunani, ia mengakui bahwa dalam arti Yunaninya, aletheia memang merujuk pada “ketepatan proposisi”, yakni kesesuaian pikiran dengan kenyataan. Alethes dalam Homeros tidak pernah sekadar “kata yang diucapkan”, melainkan selalu “kata-kata yang diucapkan secara tepat”, yang berkorespondensi tepat dengan sesuatu.
Sebelumnya Heidegger menuduh bahwa dengan Platon, kebenaran menjadi sekadar homoiosis (kesesuaian, ketepatan melihat), dan nyatanya memang demikianlah kebenaran, sehingga tuduhan Heidegger itu salah.
Heidegger membela diri: selama ini ia mengusulkan aletheia sebagai “ketaktersembunyian” bukan karena alasan etimologis, melainkan karena tafsir seperti itulah yang secara subur menolongnya memikirkan problem utama filsafat, yaitu soal ada dan pikiran.
Aristoteles: Nama dan Ilmu Metafisika
Dari Mana Nama Metafisika
Judul metafisika, lebih tepatnya dalam bentuk jamak, hal-hal yang metafisis (ta meta ta phusika), tidak berasal dari Aristoteles sendiri, melainkan dari beberapa orang lain yang mengedisi teks-teksnya.
Salah satu nama editor yang selalu dianggap menjadi pengasal nama Metafisika adalah Andronikos dari Rhodes (pimpinan ke-11 Lykeos, sekolah yang didirikan Aristoteles).
Pertama, edisi buatan Hermippios (pustakawan Alexandria) atau Ariston de Ceos yang, menurut kesaksian Diogenes Laertios, menyusun teks-teks Aristoteles dalam jumlah yang lebih sedikit daripada yang sekarang kita miliki. Edisi pertama ini tidak menggunakan judul ta meta ta phusika.
Kedua, edisi karya seorang anonim yang dikaitkan dengan nama Hesychius, yang ditemukan dan diterbitkan oleh Gilles Ménage dan sudah memakai judul ta meta ta phusika.
Teks-teks yang disatukan Andronikos bukanlah sekadar kompilasi campuran tanpa struktur: ada kesatuan tematis dalam klarifikasi buku-buku Aristoteles yang dibuatnya ini.
Metafisika adalah pengetahuan yang bagi kita sifatnya setelah fisika, namun secara kodrati (nature) merupakan pengetahuan yang mendahului Fisika.
Bagi kita, metafisika berarti ‘setelah fisika.’ Pembedaan cara pandang ‘bagi kita’ dan ‘menurut kodratnya’ ini adalah metode yang ada di dalam buku Metafisika sendiri, dan peralihan dari satu ke yang lain ini menandai peralihan analisis: dari pembahasan soal substansi sensibel ke forma pembentuknya.
Merujuk pada argumentasi Alexander dari Aphrodisia (salah satu komentator besar Aristoteles): bagi Aristoteles, Fisika (filsafat kedua) dan Metafisika (filsafat pertama) bukan dua domain ilmu yang berbeda, melainkan dua bentuk dari satu disiplin ilmu yang sama, yaitu filsafat. Sebagai pencarian prinsip, objek penyelidikan filsafat adalah yang ada sebagai yang ada; hanya cara pandang dan cara mengkajinya bisa berbeda-beda.
Metafisika secara kronologis memang dipelajari setelah Fisika, persis karena seturut derajat pengetahuannya, Metafisika adalah ilmu yang lebih tinggi (lebih pertama daripada Fisika). Ia disebut setelah Fisika karena, seturut tingkatan pengetahuan, pengetahuan tentang being qua being memang paling sulit objeknya untuk kita (pour nous).
Tiga Nama Metafisika dan Pembagian Ilmu
Tiga nama untuk Metafisika menurut Aristoteles:
- Sophia: kebijaksanaan, pengetahuan mengenai sebab-sebab dan penemuan atasnya.
Sophia adalah pengetahuan tertinggi atau terakhir, karena objeknya adalah sebab-sebab dan prinsip-prinsip pertama.
Pertama, Sophia berambisi mendapatkan pengetahuan akan segala hal dan segala dasar (substrat) yang bisa diketahui. Karena objeknya yang demikian, ilmu ini sulit, sebab “jauh dari apa-apa yang bersifat indriawi”.
Kedua, ilmu ini lebih eksak, karena prinsip yang diselidiki jumlahnya lebih sedikit daripada ilmu-ilmu turunan darinya. Contoh: Aritmetika lebih eksak daripada Geometri.
Dalam arti ini, Sophia adalah ilmu yang bersifat pertama karena ia bersifat arkhitektonis: menjadi arche, yakni landasan atau prinsip struktural yang membimbing ilmu-ilmu turunan atau terapannya.
Sophia adalah ilmu yang universal dan pertama, dan keduanya tidak saling bertentangan. Dalam pandangan Aristoteles, sifat universal dan pertama ini tidak bertentangan mengingat induksi dan deduksi merupakan dua fase dari satu metode kerja yang sama (induksi bergerak dari data-data lalu mengerucut ke kesimpulan, sedangkan deduksi bergerak dari kesimpulan ke semua data), dan kedua metode ini adalah temuan Sokrates. Isi pembahasan Sophia pun sama dengan teori yang sudah ia bahas di Fisika tentang 4 causa.
- Ilmu tentang being qua being
Ilmu yang menyelidiki being qua being ini merupakan cara baru berfilsafat: sejauh ia menyelidiki secara khusus kausalitas forma, ia juga menjadi filsafat pertama. Jika dibandingkan dengan fisika yang hanya membahas salah satu genus (adaan), yaitu substansi fisis, seorang filsuf beranjak lebih jauh mencari causa ada-nya substansi fisis itu (totalitas adaan), dan temuannya bukan lagi causa dalam arti elemen-elemen material, melainkan sebuah forma atau struktur umum dari hal-hal yang ia selidiki. Penemuan causa formalis inilah yang membuat pencarian esensi dan definisi menjadi penting.
Perlu dicatat: being qua being tidak merujuk pada sesuatu atau sebuah hal, melainkan pada perspektif yang dengannya kita memperlakukan being sebagai objek sebuah sains, ilmu, atau filsafat. Contohnya genus: homo atau manusia. Genus ditambah perbedaan spesifik menghasilkan spesies, misalnya genus homo ditambah hidup di zaman sekarang menghasilkan homo sapiens, lalu spesies ditambah perbedaan spesifik menghasilkan individu: spesies homo sapiens yang hidup di Jawa menghasilkan individu Jawa, yakni manusia Jawa.
- Filsafat Pertama (prote philosophia)
Dalam buku epsilon, filsafat dibicarakan dalam hubungannya dengan ilmu Fisika dan Matematika. Ketiganya dikategorikan sebagai “ilmu teoretis”.
Pembagian ilmu-ilmu:
| Ilmu | Pengertian |
|---|---|
| Poiesis | Pengetahuan yang membuat orang bisa membuat sesuatu, yakni produk, karya, atau kerajinan, yang bisa dilepaskan dari pembuatnya. |
| Praxis | Pengetahuan yang objeknya moral dan politik, yang ujudnya ialah tindakan politik (action). |
| Teoretis | Selain pengetahuan praktis, ada pengetahuan theoreia (kontemplasi): pengetahuan murni yang dibedakan dari pengetahuan terapan. Manusia tidak diwajibkan memproduksi sesuatu, namun pengetahuan ini membahagiakan. Bagi Aristoteles, manusia secara alamiah bersifat kontemplatif dan menyukai pengetahuan yang tidak selalu bisa diterapkan atau bersifat produktif: manusia mengambil jarak dari “kemampuannya untuk berproduksi” guna menimbang “kausalitas” dalam dirinya sendiri untuk hal-hal yang ia amati. Dalam ilmu teoretis inilah ditemukan bahwa sains atau pengetahuan adalah sains mengenai “sebab-sebab.” |
Ada tiga cabang Ilmu Teoretis:
| Cabang | Objek | Sifat |
|---|---|---|
| Fisika | Tidak terpisahkan dari materi. Contoh: hidung pesek, mata, wajah, dll. | Mobil (bisa bergerak, berubah). |
| Mathematika | Tidak ber-ada secara riil, hanya abstraksi di dalam kepala kita. Contoh abstraksi: “kuantitas dan kualitas” benda-benda, yang bekerja dengan angka-angka. | Bisa dipisahkan (dari materi) dan imobil (tidak berubah). Angka tidak berubah (immobile). |
| Theologia | Apa yang terpisah (dipisahkan dari benda). | Imobil (tidak bergerak dan tidak berubah). |
Plotinos: Prosesi, Hipostasis, dan Jalan Keluar
Energia Ganda dan Prosesi Realitas
Plotinos mengembangkan tafsiran khasnya atas Platon: Kebaikan = beyond essence.
- Prosesi Realitas
Plotinos menguraikan secara rasional “bagaimana” yang ada itu ada. Titik tolaknya adalah sesuatu yang sempurna (en-ergon, energeia, entelekheia-en telos), yang dengan sendirinya memancarkan aktivitas. Prosesi adalah sebuah arak-arakan yang urut-urutannya tidak boleh dikacaukan. Bayangkan prosesi dalam ekaristi.
Titik tolaknya ialah To Hen (The One/L"un[e]) yang sempurna: tidak butuh apa-apa, maha sederhana, dan tidak bisa dipikirkan memiliki apa-apa, persis karena ia menjadi sumber segala apa yang ada. Dari pikiran yang menangkapnya mengalir materi intelligible, tanpa bentuk dan masih bukan apa-apa.
Materi intelligible inilah yang pada saat melakukan “conversion” (membersihkan diri dan naik dari hupostasis Jiwa menuju Yang Satu) berubah menjadi Nous: hypostasis (atau realitas) kedua, yakni pikiran (nous) yang memikirkan (noesis) isi pikirannya (noemata) sendiri.
Aktivitas utama pikiran ini adalah kontemplasi atas dirinya sendiri, di luar waktu dan di luar kemenjadian. Kesempurnaan being-thinking-living ini mirip dengan ” motor immobile" pada Aristoteles, yang dikatakan juga dalam kondisi " berbahagia" dalam aktivitas " theoreia"-nya.
Motor immobile dalam dirinya sendiri adalah sempurna (energeia): secara internal ia tidak memiliki aktivitas lain kecuali mengkontemplasikan dirinya sendiri dan roh, meski begitu, bukan berarti ia tidak berbuah apa-apa.
Secara eksternal, karena ia dihasrati, ia justru memproduksi gerakan menjadi motor tanpa ia sendiri berubah. Sederhananya, kita pakai skema Aristoteles tentang potensi-aktus-energeia:
-
Potentia pertama: A tidak tahu bahasa Prancis.
-
Aktus pertama: A belajar bahasa dan akhirnya bisa berbahasa Prancis.
-
Potentia kedua (hexis, habitus): A tidur, maka kemampuan berbahasanya tidak nampak dan laten.
-
Aktus kedua atau energeia: A bangun, lalu mulai ngoceh bahasa Prancis.
-
Dalam proses dari 3 ke 4 ada “gerakan” tetapi “tanpa perubahan nyata”: ketika orang memiliki kemampuan berbahasa (berada dalam energeia-nya), secara niscaya dan otomatis ia memproduksi aktivitas berbahasa. Kesempurnaan internal “menguasai sebuah bahasa” dengan sendirinya “memancar keluar” dalam aktivitas eksternal berbahasa.
Teori tentang kesempurnaan sesuatu (energeia) inilah yang diekstrapolasi, diperluas tetapi tetap menggunakan pola pemikiran sebelumnya, oleh Plotinos menjadi “logika internal energeia ganda Prosesi Realitas”: Plotinos menjelaskan bahwa yang ada menjadi ada berkat logika internal seperti itu.
The One - energeia ganda: kesempurnaan dalam dirinya sendiri. Istilah ini mengacu pada To Hen dan Nous. The One (as causa efficient) dengan sendirinya mengalirkan “sesuatu yang lain” ke bawah: degradasi (prosesi). The One (as a final cause): segala yang mengalir berpaling kembali ke atas: inilah aktualisasi atau penyempurnaan intelek (konversi). Bagi Plotinos, ada DUALITAS: dunia inteligibel (Nous, tanpa ruang-waktu) dan dunia sensibel (yang berwaktu, tempat Jiwa bekerja).
Tiga Hipostasis
Tiga Hipostasis menurut Plotinos:
-
Hipostasis pertama: To Hen (Yang Satu) / Noetic Vision, yang seringkali dikatakan Plotinos sebagai kebaikan (merujuk pada Matahari-Kebaikan dalam alegori gua Platon di Politeia). Kebaikan atau To Hen adalah Sang Sumber, asal segala sesuatu.
-
Hipostasis kedua: dari kesempurnaan Yang Satu muncullah Intelek (Nous) yang juga merupakan realitas yang sempurna. Nous ini, yang mirip dengan motor immobile pada Aristoteles, menjadi hipostasis kedua, karena Nous memikirkan (noesis) isi pikirannya (noemata) sendiri, dan dengan berpegang pada prinsip “energeia ganda”, kesempurnaan intelek akan mengalirkan hal lain keluar dari dirinya.
-
Hipostasis ketiga: dari aktivitas utamanya, kontemplasi diri, sebuah aktivitas produktif keluar begitu saja dan memunculkan hipostasis ketiga: Jiwa (Psukhe). Sama seperti hipostasis intelek yang keluar dan menjadi realitas independen namun tetap “tergantung” (menyatu) dengan asalnya, Yang Satu, hipostasis Jiwa pun menyatu dengan asalnya, yakni Intelek. Hipostasis jiwa ini terpilah menjadi Jiwa Dunia dan Jiwa-Jiwa Individu (termasuk planet, bintang, manusia): jiwa-jiwa individual ini tersatukan di bagian “atasnya” yang tetap menggantung pada Intelek, dan bagian atas inilah yang disebut jiwa hipostasis. Pada saat terbentuknya jiwa ini, “waktu” turut lahir. Jika di Yang Satu dan Intelek kita manusia tidak mampu memilahnya (karena mereka di luar ruang dan waktu), dengan hadirnya " waktu" Jiwa bisa kita pilah-pilah secara berbeda-beda. Jiwa manusia lahir di tataran ini.
Lolos dari Onto-Theo-Logi
Plotinos lolos dari Analisis Onto-theo-logis Heidegger
Plotinos secara umum menolak bahwa ontologi (pemikiran tentang being) menjadi pemikiran yang tertinggi: dalam hierarki pengetahuan filosofis, ia lebih berbicara tentang henologi (To Hen = Yang Satu). Penangkapan being bukanlah yang tertinggi dalam hierarki pengetahuan manusia. Being bukan yang pertama dan bukan yang paling universal. Persoalan being hanya berada di tingkat hipostasis kedua, Nous, sementara di atas Nous masih ada To Hen yang paling pertama dan esensial. Ada sesuatu yang melampaui (beyond) being!
Pemikiran ini menunjukkan bahwa struktur onto-theo-logis ciptaan Heidegger memang murni rekaan pikiran Heidegger sendiri, dan sama sekali bukan keniscayaan logis struktur berpikir manusia. Ontologi Plotinian juga tidak berbicara dan berujung pada teologi: teologi bagi Heidegger adalah sebuah " interpretasi di mana yang dinamakan causa dan being adalah Tuhan, dan causa itu mengandung " be" di dalam dirinya, lalu membuat " be" itu keluar dan mentransfernya ke being, karena ia (Tuhan) adalah Being paling tinggi/maksimum".
Menurut Plotinos, di atas being tidak ada being maksimum apa pun: kita tidak menemukan “summum ens” yang dianggap sebagai causa dan sumber transfer “be” kepada beings lainnya. Yang Satu menurut Plotinos memang causa bagi beings, dan persis karena ia causa, maka ia sendiri bukanlah being. Dalam skema Neoplatonisian, sebuah causa tidak memiliki ciri-ciri dari efek yang muncul darinya. Maka dengan jelas bisa dikatakan tidak ada onto-theo-logis dalam Plotinos. Metafisika, sejauh ia memang mengajak kita melongok soal-soal prinsip dan sebab pertama bagi realitas, mengenal 2 jalan untuk memahami To Hen: jalan positif, lewat jalan berpikir, dan jalan negatif, di mana bahasa tidak dapat diungkapkan.
Yang Satu: huper (beyond)-on. Plotinos memberi sumbangan kemungkinan dengan “merekonstruksi fungsi bahasa dengan analogi”, bukan seperti Heidegger dengan puisi atau mutisme (diam). Ia menggunakan sumber daya internal dari bahasa itu sendiri, dengan segala keterbatasan dan potensinya, untuk mewacanakan dan memikirkan apa yang menurutnya bukan-ada karena “melampaui” ada (dan pikiran manusia).
Kant: Batas dan Kemungkinan Metafisika
Batas Pengetahuan
Dalam Kritik Rasio Murni, Kant menguraikan teori tentang pengetahuan yang menunjukkan kemustahilan Metafisika.
Kant menyatakan bahwa objek metafisika ada 3:
-
Dunia sebagai keseluruhan (bukan dalam arti dunia empiris);
-
Jiwa dalam arti “kebebasan” dan immortal;
-
Allah.
Ketiganya adalah objek metafisis karena tidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba: tidak bisa menjadi objek pengetahuan sebab tidak berada dalam ruang dan waktu. Ketiga hal di atas disebut idea regulative, yang penting gunanya untuk menempatkan apa-apa yang kita kenali dengan akal (verstand) sehingga bisa kita mengerti dengan budi (vernunft). Cara kerjanya seperti arah mata angin: mata angin tidak pernah tiba sebagai tempat, tetapi mengorientasikan seluruh perjalanan. Demikian ide mengatur pemakaian akal tanpa menjadi objeknya.
Metode filsafat Kant disebut metode “kritis”: kita diajak memikirkan “syarat-syarat mutlak” atau “syarat transcendental” bagi pengetahuan (kritik pertama) dan tindakan moral (kritik kedua) untuk memahami yang inderawi.
Menurut Kant, semua pengetahuan empiris tersusun atas dua unsur: intuisi dan konsep. Intuisi adalah apa-apa yang diberikan kepada kita lewat indera, sementara konsep adalah kata atau pemikiran yang kita pakai untuk mengelola intuisi. Ruang dan waktu adalah intuisi transcendental, sedangkan 12 kategori adalah konsep transcendental (4 kelompok besar: kuantitas, kualitas, relasi, dan modalitas).
Dalam Kritik tentang Nalar Budi Murni, Kant menjelaskan batas-batas pengetahuan manusia (apa yang dapat saya ketahui): Kant dengan tegas membatasi pengetahuan manusia pada objek-objek inderawi, yaitu hal-hal apa saja yang dapat dialami dalam a priori ruang dan waktu.
-
Sinneswahrnehmung (Pencerapan inderawi/pengalaman) = data inderawi + a priori (ruang dan waktu)
-
Verstand (pengetahuan akal budi) = pengetahuan inderawi + a priori (12 kategori)
-
Vernunft (budi)
Metafisika tradisional yang mengklaim memiliki pengetahuan tentang jiwa, dunia, dan Allah menjadi mustahil sebagai ilmu pengetahuan, karena hal-hal itu bukanlah data inderawi yang dapat ditangkap dalam a priori ruang dan waktu. Ketiganya tidak bisa dibuktikan, sebab persis itu tidak termasuk ranah pengetahuan: jiwa, dunia, dan Allah adalah ide-ide regulatif yang bukan bagian dari pengalaman, sehingga tidak bisa menjadi objek pengetahuan.
Metafisika menjadi sekadar ilusi dan Paralogisme, atau pseudo pengetahuan (tampaknya logis, padahal palsu). Akan tetapi, dengan mengatakan bahwa jiwa, dunia, dan Allah tidak dibahas secara rasional oleh rasio murni (nalar teoretis) bukan berarti ketiganya tidak ada: ada jalan lain, yakni lewat nalar praktis, di mana ketiganya ditempatkan sebagai postulat. Jadi meski tidak bisa menjadi pengetahuan (sains) yang sebenarnya, “metafisika kritis” toh diakui sebagai postulat penting bagi hidup moral.
Jalan Nalar Praktis
Teori Kant tentang Nalar Praktis (Critique of Practical Reason) membuka kemungkinan Metafisika: Kant menyatakan apa yang seharusnya dilakukan sebagai hasil dari intuisi idea regulative (adanya jiwa, dunia, dan Allah) melalui konsep imperatif kategoris, yaitu tindakan moral. Idea regulative ini menjadi hal-hal yang diandaikan harus ada agar tindakan moral menjadi masuk akal. Akan tetapi, dengan mempostulatkan idea regulative sebagai dasar tindakan moral, Kant justru membuka jalan kepada metafisika: jiwa mengandaikan kebebasan untuk memasuki wilayah moral (dan imortalitas jiwa), dunia mengandaikan adanya prinsip universal yang tertata, dan Allah sebagai penjamin. Dengan demikian, ide mengenai jiwa, dunia, dan Allah bukan berarti tidak ada. Lewat jalan Nalar Praktis ini kita bisa mengetahui bahwa ketiganya ada.
Moral Kant bersifat imperatif kategoris (bukan imperatif hipotetis), dengan 3 kriteria: a) universalitas, b) hormat kepada person, c) otonom. Selain itu, etikanya disebut juga deontologis (berlawanan dengan utilitaris): yang penting dari tindakan adalah “motivasi batiniah”. Tindakan moral tidak mengejar bahagia, melainkan membuat pelakunya layak bahagia. Yang layak bahagia ialah yang berbuat baik tanpa pamrih.
Penilaian Sintetis Apriori
Heidegger menafsir soal synthetic a priori judgement dalam Kant.
Kant menggunakan istilah proposisi analitis dan proposisi sintesis. Dalam kerangka Kant, kalimat “bola itu bundar” disebut analitis a priori (predikat terangkum pada subjeknya), sedangkan “semua bola itu berat” disebut sintesis a posteriori (dibuktikan dengan pengalaman). Sintesis a priori adalah pengetahuan yang benar berkaitan dengan konsep-konsep a priori yang dikumpulkan secara sintetik: justificasinya bukan dari pengalaman, melainkan dari akal murni sendiri. Tetapi daya berlakunya untuk pengalaman, sebab prinsip itulah yang memungkinkan pengalaman.
Bagi Heidegger, Critical Reason termasuk kajian metafisika generalis: dengan mengetengahkan sintesis a priori inilah Kant masuk dalam skema onto-theo-logis tradisi metafisika Barat (metafisika generalis). Proposisi sintesis a priori menimbang dan mencari bukan entities (being), melainkan “the being of entities”.
Hal itu dapat dilihat dalam skema berikut ini:
-
Analitis a priori (sains matematis, deduktif)
-
Sintesis a posteriori (natural sains, induktif). Kedua judgement ini berkenaan dengan judgement atas “being” (sebuah ontic judgement); wilayahnya ada di sekitar “sains”.
-
Sintesis a priori (yang dicari Kant). Menurut Heidegger, di sini kita diajak masuk ke “ontological judgement”, di mana kita tidak mengkaji lagi “beings” tetapi “the being of beings”.
Kebenaran moral yang mempostulatkan jiwa, dunia, dan Allah merupakan sintesis a priori: dalam sintesis a priori, Kant mengajak kita pada ontological judgement, di mana kita mengkaji beings of being.
Kant melakukan “Revolusi Copernican”: dulu orang percaya bahwa pengetahuan harus menyesuaikan diri dengan objek: artinya, ketika berspekulasi tentang esse, substantia, dll, “objek yang dipikirkan itu” pasti ada. Tetapi menurut Kant, justru objeklah (sebagai gejala yang tampil) yang menyesuaikan diri dengan bentuk-bentuk a priori pikiran kita: ruang, waktu, dan 12 kategori.
Nalar subjek manusia dibatasi frame konsep-konsep " ruang dan waktu" dan 12 kategori: hanya objek yang masuk dalam frame tersebut yang bisa dijadikan “objek pengetahuan”, sebab “das Ding an sich” atau “the thing in itself” tidak pernah kita ketahui.
Bagi Heidegger, yang baru dari Kant adalah bahwa objek-objek yang mau dianalisis harus disesuaikan dengan sintetik a priori judgement, dan di mata Heidegger ini disebut “ontological knowledge” (pengetahuan ontologis yang sekali lagi berkenaan dengan “the being of beings”).
Hal-hal terkait: Imperatif kategoris dan imperatif hipotetis, etika deontologis (berlawanan dengan utilitaris), 3 maksim.
Levinas dan Michel Henry: Etika dan Kehidupan
Kritik atas Heidegger
Di mata Levinas, Ontologi sama sekali tidak fundamental! Yang fundamental adalah Metafisika. Ontologi tidak penting; yang penting ialah Metafisika dalam arti etika.
Kritik Levinas untuk Filsafat:
Filsafat: “Pengetahuan” adalah sebuah aktivitas intelektual, sebuah kehendak rasional, tindakan yang mau mengapropriasi (menjadikan milikku sendiri) apa yang hendak dipahami. Dalam skema seperti itu, apa yang merupakan “alteritas” (sesuatu yang lain) hendak direduksi/ditotalisir (dihilangkan, dicengkeram), diapropriasi supaya menjadi “diketahui” (oleh aku, subjek yang mengetahui).
Levinas berpendapat bahwa analisis atas reduksi terhadap yang konkret ini berujung pada pendapatnya: “Filsafat Barat” adalah “Ontologi dari Yang Sama”. Levinas mengajukan sebuah cara berfilsafat lain yang mendasarkan diri pada “melihat Yang Lain” dan mengutamakan “Yang Lain”, untuk mengembalikan “irreduktibilitas Yang Lain”.
Levinas bertitik tolak pada nosi “intensionalitas” Husserl, yang sebenarnya adalah aktivitas “representasi”: pengetahuan yang dimiliki oleh “kesadaran diri” yang selalu “sadar akan sesuatu”. Masalahnya, menurut Levinas, reduksi transendental memang menunda semua penilaian terhadap dunia, namun tidak “menunda” kesadaran diri yang selalu sadar akan sesuatu. Fakta itu toh tetap bertahan, sehingga ia mendasarkan diri pada sebuah “keakuan absolut”.
Sebenarnya, dalam diri manusia ada kesadaran diri non-intensional: sebuah kesadaran diri tanpa arah dan tujuan apa pun juga, yang bisa menjadi “pengetahuan” namun jelas bukan pengetahuan dalam arti “objektif” (yang mengobjekkan apa yang diketahui dalam bentuk representasi). Kesadaran diri ini bersifat pasif dan sama sekali bukan diri refleksif: tanpa intensionalitas, tanpa arahan, tanpa nama, tanpa situasi, tanpa gelar. Ia “hadir” tetapi sambil mempertanyakan “kehadiran” itu sendiri. Kesadaran non refleksif ini seperti “orang asing”, tanpa “rumah”, tanpa “negara”, dan “pasif” karena dari awalnya begitu, bukan karena dilawankan dengan aktif.
Levinas menekankan bahwa “subjek” (kesadaran diri manusia) pada dasarnya adalah sebuah “pasivitas murni”: kalau ia bisa bertindak, itu karena dia dipanggil oleh “Yang Lain” yang mengkonstitusi diriku.
Levinas berbicara tentang “Wajah Orang Lain” sebagai tempat asali munculnya makna: interpelasi “Yang Lain” (yang dapat kuakses lewat rasa) inilah yang justru akan mengkonstitusi diri kita sebagai subjek yang mengetahui. Titik tolaknya dengan demikian bukan “aku” (yang terjebak dalam “egologi”), melainkan “Yang Lain”.
Apa artinya Wajah Orang Lain? Wajah yang mortal, yang bisa mati: wajah yang memberiku tugas, menuntutku, mewajibkanku, seolah kematiannya yang “invisibel” ini menjadi urusanku.
Maka, sungguh bukan hanya interpelasi: kita bertanggung jawab, kita substitusi (pengganti) “Yang Lain”, kita “sandera” dari “Yang Lain”. Subjektivitas yang menundukkan diri tanpa batas.
Kritik Levinas kepada Heidegger:
- Heidegger memperlihatkan sebuah filsafat yang memberi prioritas pada Sein (Be) daripada beings (adaan-adaan): semua beings selalu dilihat oleh Heidegger sebagai “pencahayaan” dari Be tersebut, dan segala sesuatu “ditundukkan” pada Be. Dalam kacamata Levinas, beings (yang salah satunya adalah manusia) hanya dijadikan SARANA untuk “pemahaman” akan Be. Apakah filsafat dari dulu sampai sekarang selalu menundukkan manusia kepada Be?
Jadi, Levinas melihat bahwa ada “ketertutupan” di situ, karena semua dikembalikan ke Yang Sama (Ada, Sein), dan di balik semua itu, Levinas melihat bahwa proyek Heidegger terpusat pada “pemahaman”: Dasein yang mau memahami segala sesuatunya dalam “cakrawala Be”. Inilah yang disebut TOTALITAS.
- Memang benar Heidegger mengatakan bahwa Be itu selalu menyembunyikan diri, namun toh, meski demikian, penyembunyian ini juga “sudah diketahui”, sehingga sudah terantisipasi bahwa nanti ia akan “keluar dari persembunyian” untuk “bersembunyi” lagi! Be dengan demikian tidak terlalu misterius lagi, sebab tinggal ditunggu (dengan pasif) saja penampakannya.
Meski Be belum diketahui sebagai “pengetahuan”, toh Be itu sudah ada dalam jangkauan tangannya. Maka pertanyaan Levinas: di mana letak “the Other” yang “absolutely Other” jika semuanya ditundukkan pada pemahaman “saya” (ego)?
Kritik Michel Henry terhadap Heidegger:
Michel Henry tidak secara eksplisit mengkritik metafisika Heidegger. Michel Henry adalah seorang fenomenolog, sehingga ia melihat pemikiran Heidegger dari sudut fenomenologi: menurutnya, Heidegger dan Husserl terlalu fokus kepada fenomenologi dan tidak bertanya apa yang membuat fenomenologi itu mungkin. Masalah yang diangkat Heidegger adalah tentang adanya reduksi dalam representasi atas presentasi dalam kesadaran. Hanya sampai situ, lalu Heidegger mengembangkan metafisika ontologis fundamentalnya. Menurut Michel Henry, Heidegger justru lupa untuk bertanya tentang apa yang membuat presentasi dan representasi itu mungkin!
Gelas dan meja dapat menjadi fenomena bagi kesadaran bukan karena ada daya atau kekuatan dari gelas dan meja itu sendiri. Meja dan gelas hanya materi yang mati dan tidak berdaya apa-apa. Harus ada daya yang lain, yang berbeda dari gelas dan meja, yang dapat membuat meja dan gelas itu tertampakkan. Daya lain itu Michel Henry sebut sebagai fenomena asali: sebuah tindakan-menampak-murni yang tidak berasal dari sesuatu yang lain, dan sifatnya auto-apparite (tindak-menampak-dari-dirinya-sendiri), yaitu Kehidupan.
Bagi Michel Henry, Fenomenologi Husserl dan Heidegger masih terpenjara oleh sebuah pengandaian, yaitu bahwa menampaknya sesuatu itu bersifat eksternal atau berada di luar kesadaran: intensionalitas atau kesadaran manusia masih dipahami sebagai sesuatu yang muncul dari luar. Karena fokus kepada yang eksternal, mereka lupa dengan landasan utama intensionalitas, dari mana intensionalitas itu muncul, yaitu Kehidupan itu sendiri.
Heidegger masih mewarisi cara berpikir yang sibuk menganalisis tubuh objektif (yang kelihatan, objektif), sementara Michel Henry justru menawarkan untuk menganalisis corps originaire atau tubuh subjektif yang tak kelihatan, yaitu Daging. Kehidupan bagi Michel Henry dengan demikian bukanlah kehidupan dalam arti biologis atau Galilean (yang mereduksi tubuh hidup ke taraf atom, hormon, dan sinapse), melainkan kehidupan dalam dirinya sendiri yang bersifat auto-afektif. Inilah esensi intensionalitas, suatu Kehidupan yang merasakan dirinya sendiri.
Etika sebagai Filsafat Pertama
Levinas menandaskan pemikirannya bahwa relasiku dengan beings adalah “relasi yang etis”. Ini sangat berbeda dengan relasiku dengan Be yang bersifat “ontologis” dan sekadar upaya pemahaman yang dominatif.
Menurut Levinas, Filsafat dari Platon sampai Hegel menjadikan kita jatuh dalam sikap “teoretis” dan berelasi dengan dunia (dan manusia) secara impersonal dalam “Filsafat Neutrum”: dengan Filsafat seperti itu, kita tidak lagi berelasi secara konkret dengan manusia atau kursi (beings), melainkan jatuh ke relasi impersonal (yang dimediasi oleh konsep).
Filsafat seperti itu mengabaikan “relasi etis” (sebuah relasi langsung, muka ketemu muka). Bagi Levinas, “relasi dengan orang lain” tidak bisa direduksi dalam sekadar “pemahaman”.
Misal: Memahami orang lain?
-
Jangan-jangan ada agenda dominasi?
-
Jika tidak ada, bisa saja itu sebuah reduksi atas kekayaan makna Yang Lain.
Kata “Ontologi” bagi Levinas bermakna buruk, sehingga Levinas hendak merestorasi kata “Metafisika”: di matanya, “Metafisika” artinya merujuk pada sesuatu yang benar-benar “beyond, meta”, yang mengajak keluar TANPA KEMBALI ke kita, bukan pura-pura transenden tapi lalu kembali ke kita lagi.
Metafisika adalah relasi etis: sebuah hasrat keluar yang terarah pada sesuatu yang lain, yang tidak bisa ditundukkan dalam pemahaman egologis. Relasinya mendasar dan tidak bisa distrukturkan. Bagi Levinas, relasi etis:
-
Bukanlah sebuah relasi yang sadar.
-
Relasi tanpa relasi, yang sebenarnya adalah tanggung jawab kepada orang lain: relasi etis dibangun dari pertemuan konkret, di mana secara “pra reflektif” ada tanggung jawab. Tanggung jawab serta relasi ini tak terpahami.
Kehidupan menurut Michel Henry
Hidup atau Kehidupan bagi Michel Henry bukanlah kehidupan dalam arti biologis, bukan organisme, sel, hormon, atau sinaps, melainkan Kehidupan dengan huruf besar: daya asali yang menampakkan dirinya dari dirinya sendiri (auto-apparition) dengan cara merasakan dirinya sendiri (auto-affection). Kehidupan adalah kesan yang mengesankan dirinya sendiri: tidak ada jarak antara yang merasa dan yang dirasa, antara melihat dan terlihat. Inilah yang Henry sebut imanensi absolut, dan nadanya adalah pathos: menderita dan menikmati diri, penderitaan dan sukacita sebagai cara Kehidupan mengalami dirinya.
Karena itu Kehidupan bersifat tak-kelihatan (invisible), bukan karena tersembunyi di balik yang kelihatan, melainkan karena cara menampaknya sama sekali lain dari penampakan dunia. Fenomena dunia tampil di luar, dalam eksterioritas dan horizon; Kehidupan menampakkan diri di dalam, tanpa jarak dan tanpa perantaraan representasi. Justru penampakan dunia mengandaikan penampakan Kehidupan: gelas dan meja hanya bisa tertampakkan bagi kesadaran karena kesadaran itu sendiri hidup, karena ada Kehidupan yang lebih dulu menampakkan dirinya kepada dirinya sendiri. Yang tak-kelihatan adalah esensi dari yang kelihatan.
Dari sinilah arti tubuh subjektif (corps originaire) atau Daging: aku bukan pertama-tama tubuh-objek yang kulihat dari luar, melainkan Daging yang kualami dari dalam, yang menderita dan menikmati dirinya. Aku adalah Dagingku sebelum aku mempersepsi benda-benda. Dan setiap yang hidup (vivant), termasuk aku, diperanakkan di dalam Kehidupan absolut dan mengambil bagian di dalamnya: hidupku yang individual adalah cara Kehidupan absolut mengalami dirinya dalam diriku.
Singkatnya: bagi Henry, Hidup adalah fondasi yang dilupakan Husserl dan Heidegger: bukan Being yang dipahami, bukan objek yang direpresentasikan, melainkan Kehidupan yang merasakan dirinya sendiri, yang kepastiannya (“aku mengalami diriku”) bahkan mendahului dan memungkinkan setiap cogito.
Daftar Pustaka
Buku-buku sumber yang mendasari pembahasan tiap bagian. Catatan dalam kurung menunjukkan bagian yang dirujuk dan kaitannya dengan isi tulisan.
-
Heidegger, Martin. Pathmarks. Ed. William McNeill. Cambridge: Cambridge University Press, 1998. ("Introduction to ‘What is Metaphysics?’" hlm. 277-290 untuk onto-theo-logi; "Plato’s Doctrine of Truth" untuk aletheia dan Alegori Goa; "On the Essence and Concept of Physis in Aristotle’s Physics B,1" untuk phusis; "Kant’s Thesis about Being" untuk tafsir atas Kant.)
-
Heidegger, Martin. Identity and Difference. Trans. Joan Stambaugh. New York: Harper and Row, 1969. ("The Onto-Theo-Logical Constitution of Metaphysics.")
-
Heidegger, Martin. Being and Time. Trans. John Macquarrie dan Edward Robinson. New York: Harper and Row, 1962. (ontologi fundamental, Dasein, Sein.)
-
Heidegger, Martin. "The End of Philosophy and the Task of Thinking." Dalam Basic Writings. Ed. David Farrell Krell. New York: Harper and Row, 1977. (kuliah Paris 1964, penarikan kembali tafsir aletheia menyusul keberatan Paul Friedländer.)
-
Friedländer, Paul. Platon. Jilid 1. Berlin: de Gruyter, 1928. (keberatan filologis atas tafsir a privativum; pemakaian aletheia sebagai ketepatan dalam Homeros dan Hesiodos.)
-
Platon. Timaios (48e-52d: khora sebagai jenis ketiga), Politeia (509b: Kebaikan melampaui ada; 514a-520a: Alegori Goa), Sophistes. Dalam Plato: Complete Works. Ed. John M. Cooper. Indianapolis: Hackett, 1997.
-
Aristoteles. Metafisika (A.1-2: sophia; E.1: ilmu-ilmu teoretis, fisika, matematika, teologia; M.4: Sokrates, induksi, definisi universal; Λ.7: penggerak tak bergerak), Fisika (I.1: bagi kita dan menurut kodrat; II.3: empat causa; VIII: gerak), Analitika Posteriora (I.27: Aritmetika lebih eksak daripada Geometri). Dalam The Complete Works of Aristotle. Ed. Jonathan Barnes. Princeton: Princeton University Press, 1984.
-
Alexander dari Aphrodisia. On Aristotle Metaphysics 1. Trans. William E. Dooley. London: Duckworth, 1989. (tafsir kuno bahwa Fisika dan Metafisika adalah satu filsafat dengan dua cara pandang.)
-
Diogenes Laertios. Lives of Eminent Philosophers, buku V (katalog dan kesaksian tentang teks Aristoteles) dan IX.5 (kitab Herakleitos). Trans. R. D. Hicks. Cambridge: Harvard University Press (Loeb), 1925.
-
Herakleitos, fragmen 93 Diels-Kranz (orakel Delphi: tidak mengatakan dan tidak menyembunyikan, melainkan memberi tanda). Dalam Hermann Diels dan Walther Kranz, Die Fragmente der Vorsokratiker. Berlin: Weidmann, 1951.
-
Homeros. Iliad; Odyssey. (pemakaian alethes sebagai kata yang tepat.)
-
Plotinos. Enneads (V.1: tiga hipostasis; V.4.2: aktivitas ganda internal dan eksternal; II.4: materi inteligibel; III.7: lahirnya waktu bersama jiwa). Trans. A. H. Armstrong. Cambridge: Harvard University Press (Loeb), 1966-1988.
-
Kant, Immanuel. Critique of Pure Reason. Trans. Paul Guyer dan Allen W. Wood. Cambridge: Cambridge University Press, 1998. (tabel 12 kategori; Dialektika Transendental tentang jiwa, dunia, dan Allah; penilaian sintetis apriori.)
-
Kant, Immanuel. Critique of Practical Reason. Trans. Mary Gregor. Cambridge: Cambridge University Press, 1997. (postulat kebebasan, imortalitas jiwa, dan Allah.)
-
Husserl, Edmund. Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, First Book. Trans. Fred Kersten. Den Haag: Nijhoff, 1982. (epoche dan intensionalitas.)
-
Levinas, Emmanuel. Totality and Infinity. Trans. Alphonso Lingis. Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969. (metafisika mendahului ontologi, wajah, relasi tanpa relasi, etika.)
-
Henry, Michel. The Essence of Manifestation. Trans. Girard Etzkorn. Den Haag: Nijhoff, 1973 (Prancis 1963); Philosophy and Phenomenology of the Body. Trans. Girard Etzkorn. Den Haag: Nijhoff, 1975 (Prancis 1965). (auto-afeksi, fenomena asali, Daging, tak-kelihatan.)