Selayang Pandang Sejarah Perkembangan Kosmologi

Manusia, sebagai makhluk yang selalu bertanya, tak henti-hentinya menatap langit. Ia tidak sekadar mencatat benda-benda angkasa satu per satu, melainkan tergerak untuk memandangnya sebagai satu kesatuan, sebuah tatanan yang utuh dan bermakna. Inilah yang kita sebut kosmologi, yakni telaah tentang semesta raya sebagai sebuah sistem yang terpadu, bukan sebagai kumpulan bagian-bagian yang lepas.

Ketika mendengar kata kosmologi, benak kita mungkin langsung melayang pada astronomi, pada teleskop dan perhitungan bintang. Kaitan itu memang erat. Namun kosmologi punya satu kawan karib lain yang tak kalah penting dan sering dilupakan, yaitu sastra. Bayangkan seorang manusia purba yang mendongakkan kepala ke hamparan bintang, dengan keindahan Bima Sakti memukau matanya, lalu sebuah pertanyaan fundamental bergejolak di benaknya: “Dari mana semua ini berasal?” Di persimpangan antara kosmologi dan sastra inilah lahir mitokosmologi, yakni narasi-narasi purba tentang penciptaan dunia.

Daftar Isi

  1. Mitos Penciptaan sebagai Kosmologi Naratif
  2. Kosmologi Aristoteles: Bumi sebagai Pusat
  3. Iman Berjumpa Akal: Tempat, Gerak, dan Dekrit 1277
  4. William Ockham: Kehendak Tuhan dan Penyelidikan Empiris
  5. Pusat yang Bergeser: Cusanus hingga Copernicus
  6. Daftar Pustaka

Mitos Penciptaan sebagai Kosmologi Naratif

Jejak mitokosmologi yang paling tua antara lain ditemukan di Babilonia, dalam kidung agung Enuma Elish yang digubah pada akhir milenium kedua SM dan kemudian memengaruhi banyak mitos penciptaan di Asia Barat Daya kuno. Kidung sepanjang tujuh lempeng tanah liat ini mengisahkan pertempuran Marduk melawan dewi samudra purba Tiamat, lalu pembentukan langit dan bumi dari tubuhnya, dan penetapan manusia untuk mengabdi kepada para dewa. Kisah ini dibacakan ulang setiap tahun dalam festival Tahun Baru Akitu, sehingga tatanan kosmos diteguhkan kembali bersamaan dengan tegaknya kuasa kota Babilon.

Lempeng tanah liat Enuma Elish di Museum Ashmolean

Lempeng kisah Enuma Elish (Museum Ashmolean, Oxford). Foto oleh Zunkir, berlisensi CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Di tanah air kita sendiri ada La Galigo, epik orang Bugis yang selalu dianggap sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia, dengan taksiran enam ribu halaman folio atau sekitar tiga ratus ribu baris. Akarnya adalah tradisi lisan pra-Islam yang berasal kira-kira dari abad ke-14, yang kemudian dituliskan dalam aksara lontaraq antara abad ke-18 dan abad ke-20. Naskah sambung-menyambung yang terpanjang, dua belas jilid yang mencakup sepertiga awal keseluruhan kisah, ditulis pada pertengahan abad ke-19 oleh Colliq Pujié, Ratu Pancana, dan kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Epik ini bukan hanya mengisahkan penciptaan dan petualangan Sawerigading beserta keturunannya, tetapi juga meneguhkan silsilah raja-raja Bugis. Semua narasi semacam ini, pada dasarnya, adalah usaha manusia untuk merangkai pemahaman tentang dunia melalui imajinasi.

Naskah lontaraq La Galigo

Naskah La Galigo beraksara lontaraq. Foto domain publik, via Wikimedia Commons.

Kosmologi Aristoteles: Bumi sebagai Pusat

Manusia tidak berhenti pada imajinasi. Ada saatnya akal mulai bekerja mencari keteraturan yang logis dan analitis, dan tonggaknya diletakkan oleh Aristoteles pada abad ke-4 SM, terutama dalam karyanya De Caelo. Modelnya geosentris: Bumi yang bulat dan tak bergerak adalah pusat jagat raya, sedangkan Bulan, Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang tertambat pada cangkang-cangkang bola berlapis yang berputar mengelilinginya.

Peta langit geosentris Ptolemaik karya Andreas Cellarius, 1661

Semesta geosentris dalam Planisphaerium Ptolemaicum karya Andreas Cellarius, Harmonia Macrocosmica (1661). Domain publik, via Wikimedia Commons.

Sublunar dan Supralunar

Lapisan-lapisan itu terbagi dua. Sublunar, yakni daerah di bawah orbit Bulan, adalah dunia fana tempat segala sesuatu tersusun dari empat unsur (tanah, air, udara, api), bergerak lurus menuju tempat alamiahnya, serta mengalami lahir dan rusak seperti kehidupan kita di bumi. Sementara itu, supralunar, yakni daerah di atas orbit Bulan, adalah alam keabadian yang tersusun dari unsur kelima (eter), tempat benda-benda langit bergerak sempurna dalam lintasan melingkar tanpa pernah berubah. Di antara semua lapisan ini tidak ada ruang kosong, sebab Aristoteles menolak keberadaan kehampaan, sehingga semesta ini plenum, serba terisi.

Semesta yang Berhingga dan Tertutup

Model ini mengandaikan dunia yang berhingga dan tertutup: hanya ada satu kosmos berbentuk bola, abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, dan tidak ada apa pun di luarnya, tidak ada ruang dan tidak ada waktu. Kosmos inilah keseluruhan yang ada, dan semuanya berputar teratur pada satu pusat, yaitu Bumi. Bangunan yang kokoh ini bertahan hampir dua milenium dan baru sungguh-sungguh goyah ketika berhadapan dengan pandangan teologi Kristiani pada Abad Pertengahan.

Iman Berjumpa Akal: Tempat, Gerak, dan Dekrit 1277

Ketidaksesuaian itu berakar pada asumsi Aristoteles bahwa di luar kosmos tidak ada apa-apa. Dari sini muncul pertanyaan yang mengguncang: “Di mana kosmos ini ‘ada’?” Bukankah ‘ada’ selalu berarti ‘berada di suatu tempat’? Jika di luar kosmos tidak ada ruang, kosmos ini tidak bisa digeser ke mana-mana secara lurus, melainkan hanya bisa berputar di tempatnya.

Implikasinya sangat besar, sebab menurut logika ini bahkan Tuhan Yang Maha Kuasa pun tidak bisa menggeser kosmos secara lurus, karena tidak tersedia ruang kosong untuk menampung perpindahannya. Kesimpulan semacam itu jelas bertentangan dengan doktrin Kristiani tentang potentia Dei absoluta et ordinata (kuasa Tuhan yang mutlak dan yang tertata), yang menegaskan bahwa kekuasaan Tuhan tidak dibatasi oleh keharusan filsafat alam. Maka pada 7 Maret 1277 Uskup Paris Étienne Tempier mengeluarkan dekrit yang mengutuk 219 dalil yang diajarkan di Universitas Paris, dan di antaranya terdapat dalil ke-49 yang menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat menggerakkan langit dengan gerak lurus karena hal itu akan menyisakan kehampaan. Dalil semacam itu dinyatakan sebagai kekeliruan yang wajib ditolak.

Iluminasi kuliah di universitas abad pertengahan oleh Laurentius de Voltolina

Suasana kuliah di universitas abad pertengahan, iluminasi Laurentius de Voltolina (paruh kedua abad ke-14). Domain publik, via Wikimedia Commons.

Inilah masalah kosmologis Abad Pertengahan: bagaimana menjelaskan konsep tempat dan gerak lurus bola langit tanpa harus menerima ruang kosong di luar kosmos menurut kerangka Aristoteles, sementara kemahakuasaan Tuhan menuntut bahwa hal itu tidak mustahil bagi-Nya. Pada titik ini kosmologi menjadi arena pergesekan antara filsafat alam dan teologi Kristiani, sebuah pergulatan akal dan iman yang mendalam. Sejarawan seperti Pierre Duhem pernah menilai bahwa dekrit 1277, dengan penekanannya pada kuasa mutlak Tuhan, membebaskan pemikiran Kristiani dari belenggu Aristotelianisme dan menandai kelahiran ilmu modern, walaupun para sejarawan belakangan tidak lagi mengamini tesis itu sepenuhnya.

William Ockham: Kehendak Tuhan dan Penyelidikan Empiris

Pergesekan itu akhirnya coba dijernihkan dengan menekankan kembali doktrin kuasa Tuhan yang mutlak dan yang tertata. Seandainya Tuhan menghendaki menggerakkan alam semesta secara lurus, ruang kosong di luar kosmos bukanlah kemustahilan bagi-Nya, sebab apa pun yang tidak mengandung pertentangan batin berada dalam jangkauan kuasa mutlak-Nya. Di sinilah William Ockham tampil dengan perubahan penting dalam cara memahami relasi Tuhan dengan dunia.

Sketsa William dari Ockham dari tahun 1341

Sketsa ‘Frater Occham iste’ dari sebuah naskah tahun 1341, yang selalu dianggap sebagai potret William dari Ockham. Domain publik, via Wikimedia Commons.

Sebelumnya banyak orang mengira tatanan dunia mengalir niscaya dari hakikat Tuhan, sehingga tidak mungkin ada pengecualian. Namun menurut Ockham, dunia adalah manifestasi kehendak bebas Tuhan yang sifatnya kontingen, bukan pancaran niscaya dari hakikat-Nya. Artinya, keteraturan hukum alam yang kita saksikan adalah tatanan yang memang dikehendaki dan dipelihara Tuhan (potentia ordinata), tetapi Tuhan tetap berkuasa untuk bertindak di luar tatanan itu (potentia absoluta), dan dalam bahasa para pengikutnya tindakan semacam inilah yang kemudian menjelaskan mukjizat.

Secara praktis, pemikiran ini memungkinkan filsafat alam dan teologi berjalan masing-masing di jalurnya. Dahulu para filsuf alam tidak bisa melepaskan diri dari teologi, sehingga mereka tampil sebagai filsuf-teolog. Kini terbukalah jalan bagi penyelidikan empiris, yakni penyelidikan berdasarkan indera, yang tidak dideduksikan dari prinsip-prinsip teologis. Lepas dari teologi juga berarti bahwa kedudukan Bumi, tempat kita berpijak sebagai ciptaan Tuhan yang istimewa, tidak lagi harus menjadi pusat alam semesta. Sebuah kebebasan pemikiran yang luar biasa.

Pusat yang Bergeser: Cusanus hingga Copernicus

Kelonggaran ini membuka pintu bagi model kosmologi yang sama sekali baru. Dalam kosmologi Nikolaus Cusanus yang diuraikan dalam De docta ignorantia (selesai di Kues pada 12 Februari 1440), pusat dunia seolah mengalami krisis eksistensial, sebab Cusanus berpendapat bahwa alam semesta ini tidak punya pusat yang tetap dan tidak punya keliling yang tetap. Hanya Tuhan, yang ada di mana-mana dan di tidak-mana-mana, yang menjadi pusat sekaligus kelilingnya, sedangkan Bumi bergerak dan tidak menempati titik pusat yang persis. Implikasi ontologisnya jelas, yaitu kosmos selalu berubah dan tidak ada yang pasti, dan implikasi epistemologisnya pun demikian, yaitu kosmos tidak pernah bisa dipahami manusia secara lengkap, melainkan hanya melalui terkaan-terkaan yang sadar akan batasnya.

Potret Nikolaus Cusanus

Potret Nikolaus Cusanus. Domain publik, via Wikimedia Commons.

Pusat dunia yang sempat ‘hilang’ ini kemudian muncul kembali dalam kosmologi Nikolaus Kopernikus. Namun pusat itu kini bukan lagi Bumi, melainkan Matahari. Dengan bekal pengamatan yang cermat, perhitungan matematika yang presisi, dan daya imajinasi yang tinggi, Kopernikus mengembangkan model heliosentris dalam karyanya De revolutionibus orbium coelestium (Nürnberg, 1543), yang dipersembahkannya kepada Paus Paulus III.

Perlu diluruskan satu hal yang sering disalahpahami. Kalimat hati-hati yang berbunyi “hipotesis-hipotesis ini tidak perlu benar atau bahkan mungkin benar, sebaliknya, jika perhitungannya konsisten dengan pengamatan, itu saja sudah cukup” bukanlah pernyataan Kopernikus tentang keyakinannya sendiri, melainkan bunyi kata pengantar anonim Ad lectorem yang disisipkan oleh teolog Lutheran Andreas Osiander saat mengawasi pencetakan naskah di Nürnberg. Kopernikus sendiri meyakini modelnya sebagai gambaran kenyataan yang sesungguhnya, dan justru itulah yang membuat Rheticus, murid dan sahabatnya, berang ketika mengetahui sisipan tersebut. Kewaspadaan semacam itu dapat dipahami, sebab karya ini memang menyentuh otoritas yang mapan, walaupun sensor resmi baru dijatuhkan puluhan tahun kemudian, ketika De revolutionibus dimasukkan ke dalam Indeks pada 1616 dengan perintah revisi pada sejumlah bagian.

Diagram heliosentris dari De revolutionibus

Diagram tatanan heliosentris dari De revolutionibus orbium coelestium (1543). Domain publik, via Wikimedia Commons.

Daftar Pustaka

Buku-buku sumber yang mendasari pembahasan tiap bagian. Catatan dalam kurung menunjukkan bagian yang dirujuk dan kaitannya dengan isi tulisan.